Percepat Pembangunannya, Ajukan Akses ke Kawasan Industri dan PLTA Menjadi Jalan Strategis Nasional

TANJUNG SELOR, takanews.id – Dua ruas jalan di Bulungan perlu mendapat penanganan khusus, agar dipercepat pembangunannya. Kedua jalan yang akan menghubungkan ke kawasan ekonomi baru itu, adalah jalan dari Tanjung Selor menuju Tanah Kuning, sebagai calon kawasan industry hijau Indonesia. Kemudian yang kedua jalan menuju Kecamatan Peso, lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Untuk mempercepat pembangunan dua akses jalan tersebut, Anggota Tim Pemantau dan Evaluasi Proyek Strategis Nasional (TPE-PSN) Kementerian PUPR DR H Suheriyatna MSi mengatakan, dengan mengubah status jalan agar bisa ditangani langsung oleh Pemerintah Pusat.
“Ajukan status jalan itu menjadi jalan strategis nasional. Dasarnya, kedua jalan itu memang menjadi akses dasar untuk menuju pusat ekonomi di Kaltara, khususnya di Bulungan. Dengan status itu, menjadi dasar pusat, dalam hal ini Kementerian PUPR untuk hadir mempercepat pembangunannya,” kata Suheriyatna saat bertemu dengan Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala, Jumat (16/12/2022).
Dikatakan, Pemerintah Daerah harus bergerak cepat mengajukan usulan agar status jalan tersebut diubah. Tentunya sinergi harus dilakukan, baik oleh Pemerintah Kabupaten, maupun Pemerintah Provinsi. “Lakukan audensi kepada kementerian terkait, mengundang untuk dapatvmelakukan kunjungan lapangan dan penyampaian acara detail untuk efekmultiplier yang ditimbulkan, apabila percepatan program usulan tersebut terpenuhi,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR-Perkim Kaltara itu.
Suheriyatna mengatakan, dua mega proyek yang ada di Bulungan ini menjadi perhatian pusat, bahkan secara langsung oleh Presiden Jokowi. Salah satunya kawasan industry hijau Indonesia yang ada di Tanah Kuning-Mangkupadi. Di mana, pembangunan kawasan ini masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2020, tentang perubahan ketiga atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016, tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.
Sementara PLTA di Peso, lanjutnya, menjadi proyek penting dengan potensi listrik besar yang akan menopang kawasan industry, juga ke Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kaltim. “Untuk ke dua daerah yang juga akan menjadi pusat ekonomi baru itu, membutuhkan infrastruktur dasar yang memadahi. Salah satunya jalan. Sementara kondisi sekarang jalannya masih belum memadahi. Oleh pemerintah daerah saya yakin tidak mampu, karena membutuhkan dana besar. Sehingga satu-satunya jalan, harus Pusat yang hadir membangun,” kata pria yang sudah banyak berpengalaman mengawali pembangunan jalan-jalan di Kaltim dan Kaltara itu.
Selain dua akses jalan tersebut, yang tak kalah penting perlu menjadi perhatian adalah pembangunan Kota Baru Mandiri (KBM) Tanjung Selor. Apalagi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2018, tentang percepatan KBM Tanjung Selor akan berakhir pada 2023 mendatang. “Tadi sebelum dengan Pak Ingkong (Wabup), saya juga sudah berdiskusi denga Pak Wagub (Wakil Gubernur) membahas soal Inpres tentang KBM. Alhamdulillah, katanya sudah diajukan perpanjangannya. Kemungkinan ada perubahan nomenklatur. Ini penting, karena untuk percepatan pembangunan di Kaltara,” kata Suheriyatna.
Pertemuan Suheriyatna dengan Ingkong Ala berlangsung di kediamannya. Banyak hal didiskusikan terkait percepatan pembangunan di Bulungan. Utamanya bidang infrastruktur. Salah satunya masukan penting yang disampaikan Suheriyatna adalah mengusulkan Pulau Bunyu, menjadi Pula Terluar Indonesia. Dengan tujuan, agar percepatan pembangunan di wilayah pulau yang masih bagian dari Kabupaten Bulungan itu bisa dilakukan, dengan dukungan penuh anggaran dari Pusat.
“Di Kaltara sejauh ini hanya dua yang masuk dalam daftar pulau terluar. Yaitu Sebatik dan Karang Unarang. Padahal masih Pulau Nunukan dan Bunyu yang seharus bisa masuk. Caranya, ya Pemerintah Daerah harus bergerak, membuat pengajuan usulan ke pusat melalui BNPP (Badan Nasional Penanganan Perbatasan) yang disertai dengan data-data yang konkrit,” imbuhnya. (*)
