Pembibitan, Tata Letak dan Ketersedian Energi, Tiga Hal Penting untuk Dongkrak Hasil Tambak di Kaltara

JAKARTA, takanews.id – Pengelolaan tambak secara intensif di Kalimantan Utara (Kaltara), menjadi bahasan serius dalam diskusi antara Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Rukisah SPi MP Ph.D.KI dengan Dr Suheriyatna, Senin (04/07/2022).
Pembahasan ini muncul atas pertimbangan masih minimnya produksi perikanan dari tambak-tambak yang ada di Kaltara. Di mana menurut Suheriyatna maupun Rukisah, tidak sebanding dengan luasan tambak yang ada.
Disebutkan, produksi udang di Kaltara selama ini rata-rata hanya 4 ton dari luasan tambak sekitar 40 hektare. Dibandingkan dengan tambak intensif yang ada di daerah Jawa sangat jauh. Dicontohkan di daerah Serang, Banten, dari 4 hektare tambak bisa menghasilkan 40 ton udang.
“Nah, dari kondisi ini, mematik bahasan kita kala bertemu dengan Pak Rukisah. Bagaimana upaya kita bisa meningkatkan produksi perikanan dari pertambakan di Kaltara. Melihat potensi yang ada, itu (peningkatan produksi) sangat memungkinkan bisa,” kata Suheriyatna.
Berdasar analisa yang selama ini, menurut Dr Rukisah, ada tiga hal yang belum dilakukan dengan optimal oleh para petambak di Kaltara. Yaitu, pembibitan, tata letak tambak yang masih konvensional, serta energi untuk menggerakan mesin-mesin di tambak intensif.
“Selama ini bibit udang, masih didatangkan dari luar Kalimantan. Dari Jawa misalnya. Itu perlu waktu lama, sehinga beresiko terhadap kualitas bibit. Kemudian tata letak tambak, seharusnya tata letak tambak diatur dan disesuaikan dengan hasil riset dan teknologi yang akan dipakai,” ungkap Rukisah dalam diskusi tersebut.
Menurutnya, bibit atau benih yang tersedia di lokasi (bukan dari luar Kalimantan) bisa lebih baik. Karena tidak perlu menyesuaikan dengan link atau kondisi tambak setempat. “Kalau dibuat pembibitan lokal bisa lebih tahan dan unggul,” tegasnya.
Begitu pun dengan ketersediaan energi listrik. Menurut keduanya, sangat penting. Karena listrik untuk menggerakkan kincir atau alat yang mengatur sirkulasi air dengan baik. Dengan demikian PH akan terjaga.
“Menurut Pak Prof (Rukisah), karena beliau sebentar lagi akan menjadi profesor perikanan. Kualitas udang atau ikan itu tergantung pada kualitas airnya. Atau yang disebutnya tadi Aqua Culture atau kejernihan air. Kalau kualitas air terus terjaga dengan baik, ikan akan tumbuh dengan baik dan produksi akan meningkat,” ujar Suheriyatna.
Lebih jauh Suheriyatna mengatakan, pengelolaan tambak di Delta Kayan merupakan salah satu dari 11 program prioritas yang digagasnya saat masih di Pemprov Kaltara. Termasuk juga pemenuhan energi.
“Seperti saya sampaikan sebelumnya, energi untuk kawasan pertambakan itu penting. Nah ini sejalan dengan pembangunan PLTA yang kini sudah mulai progres. Ada PLTA Sebuku di Nunukan, juga PLTA Mentarang di Malinau dan PLTA Kayan di Bulungan. Itu semua sangat memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan energi di Delta Kayan,” ungkapnya.
Yang perlu dilakukan sekarang, lanjut dia, adalah bagamana menata kembali letak-letak tambak, sehingga bisa menjadi baik. Dan selanjutnya dapat dikelola secara intensif.
“Hal lainnya yang perlu didorong adalah percepatan pembangunan PLTA. Ini semua perlu dukungan dari Pusat. Jadi pemerintah daerah, baik kabupaten/kota maupun provinsi harus bersinergi untuk percepatan ini,” ujar dia.
Yang tak kalah penting, imbuhnya, adalah meningkatkan SDM para petambak. Ini menjadi tugas pemerintah daerah melalui OPD terkaitnya, untuk intens melakukan penyuluhan maupun pelatihan-pelatihan kepada para petani tambak.
“Memang tidak bisa secara instan langsung terwujud. Ini semua butuh kerja keras semua stakeholder. Namun jika berhasil, semua akan merasakan dampak positifnya. Petambak menjadi lebih makmur, ekonomi tumbuh, pemerintah daerah bisa memperoleh PAD lebih besar,” pungkasnya. (*)
