Upacara Adat Kenyau–Kuangkai di Kutai Barat, Warisan Budaya Dayak yang Wajib Dijaga dan Dilestarikan

20 Oktober 2025

SENDAWAR, takanews.comUpacara adat Kenyau–Kuangkai digelar dengan khidmat dan penuh haru di Kampung Jengan Danum, Kecamatan Damai, Kutai Barat.

Prosesi ini sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada tokoh adat Alm Missianus D, SH.

Upacara ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya Dayak Benuaq dan Tunjung yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan.

Hadir dalam prosesi sakral tersebut, sejumlah anggota DPRD Kalimantan Timur yang dipimpin Ketua Komisi II, Sabaruddin Panrecalle, bersama jajaran Komisi II dan III DPRD Kaltim.

Mereka hadir bersama unsur Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, tokoh adat, kepala kampung, serta masyarakat setempat, Sabtu (18/10/2025).

Dalam sambutannya, Sabaruddin Panrecalle menyampaikan rasa duka cita dan penghormatan mendalam atas wafatnya almarhum, yang dikenal sebagai sosok bijak dan penjaga nilai-nilai adat.

“Beliau bukan hanya kepala keluarga, tetapi juga panutan yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat Dayak. Nilai-nilai luhur yang beliau wariskan hendaknya terus dijaga oleh generasi penerus,” ujar Sabaruddin.

Ia juga mengapresiasi masyarakat Kutai Barat yang tetap menjaga tradisi turun-temurun sebagai bagian dari jati diri daerah.

Menurutnya, pelestarian adat seperti Kenyau–Kuangkai memiliki makna besar bagi identitas budaya Kalimantan Timur.

“Upacara ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga menjadi momen bersyukur atas jejak kebaikan yang telah ditinggalkan. Semoga keluarga diberi kekuatan, dan kita semua senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa,” tuturnya.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Yonavia, yang juga merupakan putri almarhum, menyampaikan bahwa prosesi ini merupakan wujud cinta dan penghargaan keluarga terhadap nilai-nilai adat yang ditanamkan oleh sang ayah.

“Bapak sangat mencintai adat istiadat kami. Sejak kecil, kami diajarkan untuk menjaga dan meneruskan tradisi ini. Upacara adat ini adalah wujud kasih kami kepada beliau,” ungkap Yonavia.

Upacara adat Kenyau–Kuangkai yang telah berlangsung sejak 6 Oktober 2025 mencapai puncaknya dengan pemotongan kerbau pertama, sebagai simbol penghormatan kepada roh leluhur dan penyatuan kembali jiwa almarhum dengan para pendahulu.

Serangkaian ritual lanjutan akan digelar sebagai bagian dari perjalanan spiritual keluarga dan masyarakat.

DPRD Kaltim menegaskan komitmennya untuk mendukung pelestarian budaya daerah sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat.

Menurut Sabaruddin, tradisi seperti Kenyau–Kuangkai merupakan cermin kebijaksanaan lokal yang harus dijaga sebagai warisan identitas dan kekuatan sosial Dayak di Kalimantan Timur. (adv)