Wabup Kutai Barat: Olahraga Tradisional Behempas Unik dan Perlu Dilestarikan, Kemendikbud Yakin Bisa Menasional

31 Oktober 2025
Wabup Kutai Barat Nanang Adriani bersama para atlet olahraga tradisional behempas.

SENDAWAR, takanews.com Olahraga tradisional behempas menjadi salah satu daya tarik dalam rangkaian Festival Dahau tahun 2025 yang digelar untuk memeriahkan HUT ke-26 Kabupaten Kutai Barat (Kubar).

Wakil Bupati Kubar, Nanang Adriani, menyampaikan apresiasi atas digelarnya kegiatan tersebut.

Menurutnya, behempas merupakan olahraga tradisional asal Kalimantan, termasuk di Kutai Barat yang hampir punah dan perlu dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.

“Terima kasih kepada panitia yang telah menggagas kegiatan ini masuk dalam rangkaian Festival Dahau,” kata Nanang Adriani, Kamis (30/10/2025).

Selain menumbuhkan semangat kompetisi, kegiatan behempas juga menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat dari berbagai daerah. Tradisi ini dinilai mampu mempererat kebersamaan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.

“Ini tontonan yang unik dan perlu kita dukung kelestariannya,” ujarnya.

Nanang berharap, melalui Festival Dahau, olahraga tradisional seperti behempas dapat terus digelar secara rutin dan mendapat dukungan dari semua pihak, sehingga menjadi identitas budaya yang membanggakan masyarakat Bumi Tanaa Purai Ngeriman.

Untuk diketahui, olahraga behempas tahun ini diikuti 48 peserta putra dan 11 peserta putri, tidak hanya berasal dari Kutai Barat, tetapi juga dari Kabupaten tetangga, Kutai Kartanegara.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyiapkan hadiah untuk para pemenang. Juara I putra dan putri masing-masing menerima Rp5 juta, Juara II Rp4 juta, Juara III Rp2 juta, dan Juara Harapan I Rp1 juta.

DIKEMBANGKAN HINGGA TINGKAT NASIONAL

STAF Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Perlindungan Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Basuki Teguh Yuwono mendorong olahraga tradisional (Oltrad) Behempas dikembangkan lebih luas hingga tingkat regional, nasional, bahkan internasional.

Hal itu disampaikan saat menyaksikan pertandingan ekshibisi Behempas di Taman Budaya Sendawar (TBS), Kamis (30/10/2025).

Basuki menyebut, Behempas bukan sekadar permainan rakyat atau hiburan semata, tetapi memiliki nilai-nilai luhur yang harus diwariskan.

“Behempas menanamkan sportivitas, kedisiplinan, tanggung jawab, serta jiwa kesatria. Nilai-nilai ini perlu dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda,” ujarnya.

Ia menilai, olahraga tradisional ini layak dikembangkan dengan memerhatikan aspek keamanan, kostum, serta fasilitas yang memadai.

Selain itu, dibutuhkan metode pelatihan dan pewarisan yang lebih sistematis. “Penyelenggaraan festival dan event rutin bisa menjadi sarana ekspresi dan pelestarian olahraga tradisional,” jelasnya.

Basuki juga mengusulkan agar pemerintah daerah dan komunitas budaya mendorong terbentuknya wadah khusus bagi Oltrad Behempas, dengan jejaring yang terhubung ke daerah lain seperti Lombok dan Bali yang memiliki permainan serupa.

“Selain ruang penyelenggaraan, perlu juga pembakuan maestro Behempas karena jumlahnya semakin terbatas,” imbuhnya.

Menurut dia, pengembangan olahraga tradisional seperti Behempas bukan hanya tentang pelestarian budaya, tetapi juga sarana memperkuat identitas lokal dan menarik wisatawan.

Ia berharap kegiatan ini dapat tumbuh menjadi event berkelas nasional, bahkan internasional, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya yang menjadi ruhnya.

“Semoga olahraga tradisional ini terus berkembang dan diterima generasi muda sebagai bagian dari warisan yang patut dibanggakan,” tutup Basuki. (adv)