Jelang Pengukuhan Presidium Dewan Adat, Bupati Frederick Edwin Ikuti Upacara Pekapaaq


SENDAWAR, takanews.com – Bupati Kutai Barat Frederick Edwin, bersama unsur Forkopimda mengikuti ritual Pekapaaq, yang merupakan tradisi masyarakat Dayak Tonyoi Benuaq.
Upacara yang dilangsungkan di Rumah Adat setempat pada Selasa (28/10/2025) ini, bertujuan sebagai persiapan menjelang pengukuhan presidium dewan adat yang akan digelar pada Rabu (29/10/2025) besok.
“Jadi kenapa Pekapaaq ini kita laksanakan, karena besok Pak Bupati itu akan melantik atau mengukuhkan Presidium Dewan Adat. Artinya ketika dia melantik atau mengukuhkan Presidium Dewan Adat, dia ini harus sah atau layak secara adat. Baru dia boleh melantik,” ungkap Yurang, Ketua Presidium Dewan Adat Kutai Barat.
Pria yang akan dikukuhkan besok ini, menyebutkan, bupati dan Forkopimda mengikuti proses pekapa itu tadi, dengan maksud supaya apai. Yang dalam istilah bahasa Benuaq, apai, artinya layak.
“Itu ada penamaan gelar, yang sudah lama gelar itu diberikan ke beliau. Hanya disebutkan saja gelarnya beliau. Itu sudah sebelum-sebelumnya, punya gelar Jantur Gemuruh. Hanya gelar lengkapnya kurang hapal saya, cukup panjang,” ungkapnya.
Pasca pemberian gelar beberapa waktu lalu, dalam upacara Pekapaaq hari ini, gelar bupati disebutkan lagi.
“Diulangi lagi, gelarnya disebutkan agar tersampaikan kepada leluhurnya, ini loh namanya gelarnya. Jadi pada saat pekapa di sini, dia harus disebutkan lagi nama gelarnya,” kata Yurang lagi. Dengan mengikuti prosesi Pekapa hari ini, maka kata dia, bupati bisa melantik besok.
Dalam prosesi upacara hari ini, sekaligus ada ritual Papir Ngeba. Upacara ini, merupakan persiapan untuk jelang upacara Belian Dahau.
Melalui upacara ini, bertujuan agar Bupati, dan Forkopimda, seperti Kapolres, Dandim, Kajari, Ketua Pengadilan Negeri dan unsur pemerintahan dibersihkan melalui tepung tawar atau papir pengeba.
“Semua dibersihkan, sehingga pada saat belian ini seluruh unsur pemerintah, Forkopimda, termasuk Presidium Dewan Adat itu sudah bersih,” ungkapnya.
Sebagai puncak ritual, dikatakan Yurang, adalah pada saat pemotongan kerbau pada tanggal 6 November 2025 nanti.
“Nanti mereka akan diolesi darah kerbau dan sebagainya. Artinya karena kerbau itu adalah binatang yang sangat berharga dan sangat besar namanya tidak ada yang binatang lain yang kalau di adat kita itu yang lebih besar dan lebih kuat di kerbau diolesi pada saat akhir,” ujarnya.
Terkait pelantikan atau pengukuhan Presidium Dewan Adat yang baru digelar saat ini, Yurang menjelaskan, sejauh ini masih terbentur dengan SK. Di mana ada banyak perubahan di nama-nama yang ada masuk ke dalam SK. (Adv)
