Mulai Meredup, Seni Bela Diri Kuntau Kembali Dilestarikan Lewat Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman di Tana Tidung

26 November 2025

TANA TIDUNG, takanews.com – Pelaksanaan Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman Kabupaten Tana Tidung turut menghadirkan kesenian bela diri tradisional Suku Tidung yaitu Kuntau.

Aksi ini ditampilkan di panggung yang ada di RTH Djoesoef Abdullah Jalan Perintis, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara ( Kaltara ), Selasa (25/11/205) malam.

Seni bela diri tradisional Kuntau atau yang biasa juga disebut Tok Kawit ini dibawakan secara apik oleh lima orang seniman yang masih remaja.

Efendy, Ketua Karang Taruna Kecamatan Sesayap Kabupaten Tana Tidung yang menginisiasi penampilan Kuntau mengatakan seni bela diri masyarakat Suku Tidung ini keberadaannya mulai tergerus zaman.

“Kuntau atau tok Kawit ini adalah salah satu seni bela diri tradisional yang dimiliki oleh masyarakat suku Tidung yang selama ini sudah mulai meredup,” kata Efendy.

Sehingga dengan adanya Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman di Kabupaten Tana Tidung ini menjadi wadah untuk mengenalkan kembali kesenian Kuntau ini kepada masyarakat luas.

“Dengan acara ini kita tampilkan kembali supaya masyarakat khususnya anak-anak muda yang ada di Kabupaten Tana Tidung bisa mengenal dan tahu ternyata suku Tidung punya seni bela diri sendiri dan kita di sini cuma untuk memeriahkan saja tidak dilombakan,” ujarnya.

Ia menuturkan seni bela diri yang dulunya cukup diminati ini perlu dilestarikan kembali agar tidak menghilang dari budaya Suku Tidung.

“Dulu kuntau ini cukup banyak peminatnya bahkan yang dulu pernah ikut sudah jadi polisi dan TNI, tapi seiring waktu dan zaman mulai turun peminatnya jadi di sini lah momennya kita mengenalkan kembali untuk melestarikan lagi dan jangan sampai punah,” tuturnya

Ia jelaskan perbedaan Kuntau dengan seni bela diri lainnya yaitu terletak pada kreasi jurusnya.

“Perbedaan kuntau dengan seni bela diri lainnya termasuk silat itu dari toknya atau jurusnya bentuk bunganya itu berbeda dengan silat pada umumnya,” jelasnya.

Pertunjukan memukau yang dibawakan para seniman di panggung Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman ini sendiri tidak dilakukan secara instan.

Persiapan dilakukan selama kurang lebih dua minggu lamanya untuk memaksimalkan performance dengan mematangkan latihan-latihan yang telah dilakukan sebelumnya.

“Kita dapat informasi untuk tampil itu kurang lebih dua minggu sebelumnya jadi kita persiapkan secara maksimal untuk tampil ya dalam waktu segitu juga, tapi sebelumnya kan mereka sudah biasa latihan juga,” pungkasnya. (*)


Baca Juga