Melihat Festival Melayu Gemeoh 2025 di Kutai Barat, Diwarnai Tradisi Bekeroboq dan Becolek Pupur

18 November 2025
Tradisi makan Bekeroboq pada penutupan Festival Melayu Gemeoh di Melak, Kutai Barat.

KUTAI BARAT, takanews.com – Festival Melayu Gemeoh yang merupakan agenda tahunan di Kecamatan Melak digelar sejak sepekan terakhir. Festival tradisi yang merupakan rangkaian memperingati hari jadi kecamatan Melak ini, berakhir pada Senin (17/11/2025).

Setelah berlangsung sekitar satu pekan sejak 11 November 2025, acara penutupan digelar di Jalan Gunung Aji, Kelurahan Melak Ulu, Kabupaten Kutai Barat, melalui tradisi Makan Bekeroboq dan Becolek Pupur yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.

Ribuan warga memadati lokasi acara sejak Pagi hari. Suasananya penuh tawa, keakraban, dan warna-warni pupur yang saling dioleskan antarwarga sebagai bentuk kegembiraan dan kebersamaan.

Camat Melak, Asrin Surianto, menilai Festival Gemeoh tahun ini menunjukkan peningkatan besar dari berbagai sisi, baik jumlah peserta maupun dukungan masyarakat.

“Tahun ini saya melihat semangat masyarakat betul-betul luar biasa. Hampir setiap rangkaian kegiatan dipenuhi warga, mulai dari kirab budaya sampai acara penutupan hari ini,” ujar Asrin.

Ia juga menyebutkan bahwa festival bukan hanya hiburan, tetapi momentum memperkuat identitas budaya Melayu di Melak.

“Festival ini bukan sekadar acara tahunan. Ini adalah ruang bagi masyarakat untuk merawat budaya, memperkuat silaturahmi, dan menunjukkan bahwa tradisi Melayu tetap hidup di Melak,” katanya.

Asrin menambahkan bahwa tingginya partisipasi warga menjadi bukti bahwa Festival Gemeoh memiliki tempat khusus di hati masyarakat.

Selama pelaksanaannya, sejumlah lomba dan kegiatan digelar, mulai dari tari jepen, Run 5K, begasing, menyumpit, bulutangkis, kirab budaya, jalan santai, senam sehat, hingga berbagai atraksi seni lainnya.

“Kita bisa lihat sendiri bagaimana warga dari berbagai usia turun ke jalan, ikut makan bersama, saling colek pupur. Nilai kebersamaan seperti ini tidak semua daerah punya, dan ini yang harus terus kita jaga,” tegasnya.

Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan tahun ini tidak lepas dari kerja sama seluruh pihak, mulai dari panitia, pemangku adat, pelaku seni, hingga masyarakat yang selalu aktif meramaikan.

“Saya sangat mengapresiasi kerja panitia dan seluruh pihak yang terlibat. Tapi yang paling menentukan adalah masyarakat. Karena tanpa kehadiran dan antusiasme mereka, festival ini tidak akan semeriah ini,” tambah Asrin.

Ketua Panitia Festival Gemeoh, Sadli, juga menyampaikan apresiasinya dan mengakui bahwa tingkat kepuasan masyarakat tahun ini meningkat.

Dengan berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan, Festival Gemeoh kembali menegaskan perannya sebagai ajang budaya sekaligus perekat hubungan sosial di Kecamatan Melak. Tradisi Makan Bekeroboq dan Becolek Pupur menjadi penutup yang menggambarkan kehangatan serta kebersamaan masyarakat.

Wabup Kutai Barat: Ini Pesta Rakyat Milik Kita Semua

Wabup Kutai Barat, Nanang Adriani bersama masyarakat Kecamatan Melak saat menutup festival Gemeoh.

WAKIL Bupati Kutai Barat, Nanang Adriani, secara resmi menutup Festival Melayu Gemeoh 2025 yang merupakan rangkaian peringatan Hari Jadi Kecamatan Melak ke-224. Acara puncak berlangsung meriah di Simpang Tiga Tambak Malang, Kelurahan Melak Ulu, Kecamatan Melak, pada Senin (17/11/2025) pukul 09.00 Wita.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Ketua TP-PKK Kutai Barat Dewi Hairiah Nanang, anggota DPRD H. Ellyson, unsur Forkopimda, mantan Camat dan Sekcam Melak, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta ribuan warga dari berbagai kampung dan kelurahan.

Wabup Nanang menyampaikan bahwa festival Gemeoh bukan hanya perayaan hari jadi Kecamatan Melak, melainkan juga wadah persatuan masyarakat melalui kegiatan budaya, olahraga, dan hiburan rakyat.

“Festival ini memberikan manfaat besar dalam mempererat tali silaturahmi seluruh suku, budaya, dan komunitas di Kecamatan Melak. Ini adalah pesta rakyat, milik kita bersama,” ujar Wabup membacakan sambutan tertulis Bupati Kutai Barat.

Ia juga menegaskan bahwa rangkaian kegiatan tersebut sejalan dengan tema “Mempererat Tali Silaturahmi dan Meningkatkan Ekonomi Etam.” Melalui festival ini, pemerintah berharap UMKM, kuliner lokal, dan seni budaya terus tumbuh sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

Wabup Nanang menambahkan, pemerintah memiliki harapan besar agar Melak berkembang menjadi wilayah yang lebih maju, bersih, rapi, serta mampu menjadi pusat budaya dan destinasi wisata daerah.

Festival Gemeoh juga memiliki landasan anggaran yang jelas melalui dukungan Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Barat sebagai bentuk komitmen pemerintah terhadap pengembangan seni, budaya, dan pariwisata.

Meski acara utama telah ditutup, rangkaian kegiatan masih berlanjut. Pada 23–24 November 2025 mendatang, panitia akan menggelar lomba ketinting/ces dan mengundang seluruh masyarakat Kutai Barat untuk kembali hadir. (*)