Festival Dahau Diyakini akan Mendorong Ekonomi Kreatif dan Promosi Wisata Kutai Barat

26 Oktober 2025
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kutai Barat, yang juga ketua panitia Dahau 2025, FX Sumardi.

SENDAWAR, takanews.com– Pemerintah Kabupaten Kutai Barat resmi membuka Festival Dahau ke-26 Tahun 2025 di Taman Budaya Sendawar (TBS), yang dimulai sejak Kamis (23/10/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kutai Barat ke-26, yang digelar selama 16 hari, dari 23 Oktober hingga 7 November 2025.

Ketua Panitia sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kutai Barat, FX Sumardi, mengatakan bahwa Festival Dahau merupakan agenda rutin dua tahunan Pemkab Kutai Barat sebagai bentuk komitmen menjaga dan melestarikan kekayaan budaya lokal.

“Tujuan kegiatan ini adalah memperingati HUT Kutai Barat, mengenang jasa para pendiri, serta melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah sebagai aset berharga yang mencerminkan identitas masyarakat Kutai Barat agar lebih dikenal secara nasional maupun internasional,” ujar Sumardi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan Festival Dahau juga bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM lokal, mempererat persatuan masyarakat melalui interaksi sosial budaya, serta memberi ruang bagi generasi muda untuk berperan aktif dalam pengembangan kebudayaan di tengah arus modernisasi dan globalisasi.

“Target kegiatan ini mencakup seluruh lapisan masyarakat Kutai Barat, mitra pembangunan pemerintah, lembaga perbankan, perusahaan, UMKM, hingga tokoh adat dan agama,” tambahnya.

Sumardi juga menyampaikan, dasar hukum pelaksanaan kegiatan ini mengacu pada Surat Keputusan (SK) Bupati Kutai Barat Nomor 800.05.003.1/K.2645/2025 tentang pembentukan panitia perayaan HUT Kabupaten Kutai Barat ke-26 Tahun 2025.

Selama pelaksanaan, festival akan menampilkan berbagai kegiatan seperti stand kuliner dan UMKM, layanan kesehatan gratis, donor darah, olahraga tradisional, pentas seni dan budaya, fun bike, trail adventure, festival band, hingga lomba-lomba bernuansa adat seperti tarian kreasi, kuliner khas Kutai Barat, Monaq Ringeng, lomba busana adat, E-Sport, ketinting, dan perahu naga.

Selain menjadi ajang hiburan, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana promosi wisata dan pemberdayaan masyarakat lokal. Pendanaan festival bersumber dari dana hibah melalui DPA beberapa perangkat daerah, serta dukungan dari lembaga, perusahaan, dan perbankan.

“Kegiatan ini bukan hanya pesta rakyat, tetapi juga bentuk kolaborasi seluruh elemen masyarakat untuk menjaga warisan budaya dan menggerakkan ekonomi lokal,” pungkas Sumardi. (Adv/Diskominfo)


Baca Juga