DLHK Kukar Belum Perbarui Data ISPU Pascahujan, Warga Diminta Tetap Waspada Paparan Asap

07 November 2026

TENGGARONG, takanews.com – Masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) diminta tidak buru-buru menganggap kondisi udara sudah sepenuhnya aman, meskipun intensitas asap mulai berkurang setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah pada penghujung Oktober 2026.

Pasalnya, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar belum memiliki hasil pengukuran terbaru untuk memastikan sejauh mana perubahan kualitas udara setelah turunnya hujan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLHK Kukar, Yudiarta, menyebutkan bahwa data pemantauan terakhir pada 22–23 Oktober 2026 masih menunjukkan kondisi udara dalam kategori tidak sehat.

Pengukuran yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Kukar mencatat konsentrasi partikulat halus PM2,5 sebesar 86,70. Adapun Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di angka 133.

Angka tersebut menjadi gambaran kondisi udara sebelum hujan turun beberapa kali pada akhir Oktober. Sementara itu, perubahan kondisi setelah hujan sejauh ini baru terlihat melalui berkurangnya kepulan asap dan langit yang semakin cerah.

“Kalau melihat kondisi sekarang memang ada perbaikan. Hanya saja, untuk memastikan angka ISPU terbaru, kami masih perlu melakukan pengukuran kembali karena data awal November belum tersedia,” ungkap Yudiarta, Sabtu (7/11/2026).

Ia memperkirakan curah hujan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir turut membantu menurunkan konsentrasi polutan di udara. Kendati demikian, perkiraan tersebut belum dapat dijadikan acuan untuk menyimpulkan bahwa kualitas udara telah kembali normal.

Karena itu, DLHK Kukar masih meminta masyarakat menerapkan langkah perlindungan diri, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker menjadi salah satu upaya sederhana untuk mengurangi risiko paparan polusi.

Perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok masyarakat yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil hingga penderita asma disarankan membatasi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara belum dipastikan membaik.

“Kelompok yang rentan, baik anak-anak, lansia, ibu hamil dan penderita asma, untuk bisa menghindari kegiatan di luar rumah. Karena khawatir nanti terjadi gangguan kesehatan, terutama kepada kelompok-kelompok yang rentan ini,” pesannya.

Upaya mengurangi paparan asap juga perlu dilakukan dari lingkungan tempat tinggal. Masyarakat dianjurkan membatasi masuknya udara luar ketika kondisi udara kurang baik dengan menutup pintu dan jendela apabila tidak diperlukan untuk dibuka.

Penggunaan alat penjernih udara atau air purifier juga dapat dimanfaatkan oleh warga yang memilikinya untuk membantu menjaga kondisi udara di dalam ruangan.

Di sisi lain, DLHK Kukar menilai kebiasaan masyarakat turut berpengaruh terhadap kondisi pencemaran udara. Salah satu hal yang perlu dihindari adalah membakar sampah rumah tangga, sebab aktivitas tersebut dapat menghasilkan asap tambahan di tengah kondisi udara yang belum sepenuhnya pulih.

Yudiarta mengajak masyarakat mengelola sampah tanpa melalui proses pembakaran. Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membantu mencegah bertambahnya sumber pencemaran di lingkungan sekitar.

“Yang penting, karena kondisi saat ini juga masih kita melihat sedikit asap, kami mengingatkan kepada masyarakat untuk bisa membantu tidak membakar sampah. Sampah apa pun yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga itu tidak dibakar, sehingga tidak memperparah konsentrasi asap di udara,” pungkasnya. (sr/adv)


Baca Juga