Kapolda Kaltara Sambangi Kesultanan Bulungan dan Tokoh Adat Dayak, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

TANJUNG SELOR, takanews.com – Membangun keamanan bukan hanya tentang penegakan hukum, tetapi juga merawat kepercayaan, mendengarkan aspirasi, dan memperkuat kebersamaan dengan masyarakat. Semangat itulah yang ditunjukkan Kapolda Kalimantan Utara (Kaltara), Brigjen Pol. Andi Syahriful Taufik, saat bersilaturahmi dengan Kesultanan Bulungan di Kecamatan Tanjung Palas serta tokoh adat Dayak, Henock Merang.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolda didampingi Wakapolda Kaltara, Brigjen Pol. Yusuf, bersama sejumlah pejabat utama (PJU) Polda Kaltara. Selain bersilaturahmi, rombongan juga berziarah ke makam leluhur Kesultanan Bulungan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, nilai-nilai adat, dan warisan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Kaltara.
Bagi Andi Syahriful, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda kedinasan. Sebagai pejabat baru yang mengemban amanah memimpin Polda Kaltara, ia ingin membangun kedekatan dengan para pemangku adat sekaligus memahami karakter, nilai, dan dinamika masyarakat setempat.
“Sebagai Kapolda yang baru sekaligus warga Kaltara yang baru, wajar kalau saya mendatangi orang tua kita, para pemangku adat dan pimpinan lembaga adat,” ujar Andi Syahriful.
Merawat Kepercayaan, Mendengar Aspirasi Masyarakat
Kapolda menilai tokoh adat memiliki posisi strategis dalam menjaga keharmonisan sosial. Kedekatan mereka dengan masyarakat membuat tokoh adat menjadi bagian penting dalam menyampaikan aspirasi, meredam potensi konflik, serta membantu mencari solusi atas persoalan yang berkembang di lingkungan masing-masing.
Karena itu, ia mendorong terbangunnya komunikasi dua arah antara kepolisian dan lembaga adat. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai persoalan di tengah masyarakat diharapkan dapat diketahui lebih awal dan ditangani secara tepat sesuai kewenangan.
“Kami ingin berkolaborasi. Kami mengajak para tokoh adat bersama-sama menjaga keamanan dan kondusivitas. Jika ada aspirasi masyarakat yang perlu kami tindak lanjuti, silakan disampaikan agar bisa dikomunikasikan dan ditangani,” katanya.
Pendekatan tersebut menegaskan bahwa masyarakat bukan sekadar pihak yang menerima pelayanan keamanan, melainkan mitra penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan harmonis.
Di wilayah yang memiliki keragaman suku, budaya, serta tradisi seperti Kalimantan Utara, hubungan yang baik antara kepolisian dan tokoh adat juga menjadi modal sosial untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Polri Harus Hadir dan Dirasakan Manfaatnya
Andi Syahriful menegaskan, upaya membangun kedekatan dengan tokoh adat sejalan dengan semangat program Kapolri, yakni Polri Bersama Masyarakat. Menurutnya, keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tidak dapat diwujudkan hanya melalui tugas kepolisian, tetapi membutuhkan dukungan serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Namun, sinergi tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Ia meminta seluruh jajaran kepolisian agar tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan pelayanan dan merespons kebutuhan warga.
Mulai dari pengaturan lalu lintas, membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan, hingga menangani persoalan sesuai kewenangan, seluruh tugas tersebut harus dijalankan dengan mengedepankan tanggung jawab dan kepedulian.
“Anggota kami harus turun ke jalan, melakukan pengaturan, membantu masyarakat, dan menyelesaikan persoalan yang bisa diselesaikan. Kita harus melayani masyarakat sesuai kebutuhannya,” tegasnya.
Kapolda juga mengingatkan pentingnya kecepatan dan responsivitas dalam memberikan pelayanan. Menurutnya, masyarakat yang membutuhkan bantuan harus mendapatkan respons yang jelas dan tidak dibiarkan menunggu tanpa kepastian.
“Jangan hari ini masyarakat meminta dilayani, tetapi besok baru dilayani. Kasihan masyarakat kita. Karena itu, kami ingin pelayanan kepolisian benar-benar hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.
Sinergi Adat dan Kepolisian untuk Kaltara yang Kondusif
Kunjungan ke Kesultanan Bulungan dan silaturahmi dengan tokoh adat Dayak menjadi bagian dari upaya membangun fondasi komunikasi antara kepolisian dan unsur masyarakat adat di Kaltara.
Lebih dari sekadar pertemuan, silaturahmi tersebut membawa pesan bahwa menjaga keamanan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepercayaan, keterbukaan, dan kepedulian.
Dengan menghormati sejarah dan kearifan lokal, sekaligus memperkuat pelayanan yang responsif, kepolisian diharapkan semakin dekat dengan masyarakat. Sebab, keamanan yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari minimnya gangguan kamtibmas, tetapi juga dari hadirnya rasa aman, kepercayaan, dan kenyamanan yang benar-benar dirasakan warga dalam kehidupan sehari-hari. (*)
