Pemkab Kukar Kaji Pembangunan Hidran di Permukiman Padat Pascakebakaran Melayu

09 Oktober 2026

TENGGARONG, takanews.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) mengkaji pembangunan hidran dan alternatif penyediaan air untuk penanganan kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk. Langkah ini menjadi salah satu upaya memperkuat kesiapsiagaan setelah kebakaran menghanguskan 75 bangunan di RT 033, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Senin (5/10/2026).

Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, mengatakan pemasangan hidran di lokasi tersebut tidak bisa dilakukan secara langsung karena kapasitas pipa distribusi air milik PDAM yang tersedia belum memadai.

“Pipa yang memberikan pelayanan air kepada warga di sini hanya 2,5 inci. Sementara untuk hidran itu minimal 4 atau 6 inci,” ujarnya saat ditemui, Kamis (8/10/2026).

Karena itu, Pemkab Kukar bersama Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) akan melakukan kajian untuk menentukan skema penyediaan air yang sesuai dengan kondisi kawasan tersebut.

Menurut Sunggono, kajian itu tidak hanya berfokus pada kebutuhan penanganan kebakaran, tetapi juga mempertimbangkan langkah jangka menengah agar ketersediaan air di kawasan permukiman dapat terpenuhi.

Salah satu opsi yang memungkinkan, kata dia, ialah pengadaan lahan milik masyarakat untuk dijadikan tempat penampungan air. Alternatif lainnya adalah memasang hidran di sejumlah titik yang memiliki jaringan pipa berkapasitas lebih besar.

“Nanti kita lihat titik mana yang paling memungkinkan. Tidak mustahil, misalnya, ada lahan masyarakat yang kita beli untuk tempat penampungan air ketika terjadi kebakaran,” jelasnya.

Selain pembangunan infrastruktur, Pemkab Kukar juga akan mengkaji mekanisme pemeliharaan hidran agar fasilitas tersebut tetap berfungsi saat dibutuhkan. Hal ini mencakup penentuan pihak yang bertanggung jawab terhadap perawatan dan pemantauan secara berkala.

Sunggono menambahkan, Pemkab Kukar juga meminta agar dilakukan inventarisasi terhadap kawasan permukiman lain yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi. Prioritasnya adalah wilayah dengan rumah yang padat serta akses jalan sempit sehingga menyulitkan kendaraan pemadam kebakaran menjangkau lokasi.

“Wilayah yang rumah penduduknya padat, kemudian akses jalannya tidak memungkinkan dilewati kendaraan roda empat, itu perlu kita inventarisasi. Sebab, ketika terjadi kebakaran, kita akan kesulitan mengantisipasinya,” pungkasnya. (sr/adv)


Baca Juga