Waduk BWS Berjarak 7 Kilometer Jadi Opsi Tambahan Pasokan Air Bersih Samboja

05 November 2026

TENGGARONG, takanews.com – Keterbatasan air baku yang menghambat produksi air bersih di Kecamatan Samboja mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjajaki pemanfaatan waduk lain. Salah satu lokasi yang kini masuk dalam pertimbangan adalah waduk lama milik Balai Wilayah Sungai (BWS).

Sumber air tersebut dinilai berpotensi membantu memenuhi kebutuhan bahan baku pengolahan air Perumda Air Minum Tirta Mahakam. Namun, sebelum dimanfaatkan, pemerintah harus memastikan kapasitas air dan kemungkinan pembangunan jaringan penyalurannya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, menyampaikan bahwa lokasi waduk tersebut berjarak sekitar 5 hingga 7 kilometer dari reservoir PDAM terdekat. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai kelayakan pemanfaatannya.

Menurutnya, pemerintah tidak ingin terburu-buru menetapkan waduk tersebut sebagai solusi sebelum mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan. Pemeriksaan teknis diperlukan untuk menghitung potensi air yang bisa dimanfaatkan sekaligus kebutuhan infrastruktur pendukung.

“Lokasi itu memang cukup jauh dari reservoir yang sudah dimiliki PDAM. Karena itu, kita perlu melihat terlebih dahulu apakah sumber airnya mencukupi dan memungkinkan untuk disambungkan dengan sistem distribusi yang ada,” jelas Sunggono, Rabu (4/11/2026).

Penjajakan ini dilakukan sebagai respons atas penurunan produksi air bersih di Samboja. Kapasitas produksi yang sebelumnya mencapai 80 liter per detik kini menyusut menjadi sekitar 40 liter per detik atau berkurang separuh.

Persoalan utamanya berada pada ketersediaan air baku di waduk yang selama ini menjadi sumber pasokan. Meski hujan mulai turun, tambahan curah hujan tersebut belum mampu meningkatkan debit air secara signifikan.

Sunggono menilai kondisi cuaca yang belum konsisten membuat pemulihan sumber air membutuhkan waktu. Pemerintah daerah pun mulai mengarahkan perhatian pada alternatif lain agar pelayanan air bersih tidak terus bergantung pada satu sumber pasokan.

“Kalau hanya menunggu hujan, sementara kondisi debit air belum menunjukkan peningkatan, kita harus menyiapkan kemungkinan lain. Jangan sampai keterbatasan sumber air baku ini terus membatasi kemampuan PDAM melayani masyarakat,” ujarnya.

Untuk mempercepat penanganan, Sunggono telah meminta Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mahakam melakukan pengecekan langsung bersama pihak kecamatan dan BWS. Peninjauan tersebut dimaksudkan untuk menginventarisasi sumber air potensial sekaligus membahas kemungkinan pemanfaatannya.

Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menentukan apakah waduk lama tersebut dapat dioptimalkan atau perlu mencari sumber alternatif lainnya.

Sunggono menegaskan, ketersediaan air dalam jumlah cukup menjadi faktor penentu. Sebab, sumber air yang ditemukan harus memiliki debit memadai agar dapat diolah menjadi air baku sebelum disalurkan kepada pelanggan PDAM di Samboja dan wilayah sekitarnya.

“Jadi, yang sedang kita cari sekarang bukan sekadar waduk yang memiliki air, tetapi sumber yang benar-benar bisa dimanfaatkan untuk mendukung produksi PDAM. Itu yang harus dipastikan melalui pemeriksaan teknis,” pungkasnya. (sr/adv)


Baca Juga