PDU Perisi Benuanta Resmi Beroperasi, Pemkab Bulungan Perkuat Pengelolaan Sampah dari Hulu

25 September 2026

TANJUNG SELOR, takanews.com – Pemerintah Kabupaten Bulungan mulai memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut ditandai dengan peresmian Pusat Daur Ulang (PDU) Perisi Benuanta di kawasan TPA Tanjung Selor, Kilometer 9, Desa Bumi Rahayu, Kamis (24/9/2026).

Fasilitas yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bulungan ini diharapkan tidak sekadar menjadi tempat pemilahan sampah, tetapi menjadi bagian dari perubahan sistem persampahan di Bulungan—dari pola “buang dan angkut” menuju pengurangan, pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali sampah.

Peresmian dilakukan Bupati Bulungan Syarwani, S.Pd., M.Si., didampingi Sekretaris Daerah Bulungan Risdianto, S.Pi., M.Si., unsur Forkopimda serta jajaran perangkat daerah terkait.

Sampah 65-70 Ton per Hari

Kehadiran PDU menjadi semakin penting melihat volume sampah yang masuk ke TPA Tanjung Selor. Data DLH Bulungan menunjukkan timbulan sampah yang masuk mencapai sekitar 65 hingga 70 ton per hari.

Dengan kondisi tersebut, tidak semua sampah idealnya langsung berakhir di tempat pemrosesan akhir. Sampah yang masih memiliki nilai manfaat perlu dipisahkan dan diolah sehingga volume residu yang masuk ke area penimbunan dapat ditekan.

PDU Perisi Benuanta dibangun untuk mendukung proses tersebut. Fasilitasnya dilengkapi hanggar berukuran 30 x 25 meter, dua unit mesin dan konveyor pemilah berkapasitas hingga 2 ton per jam, jembatan timbang berkapasitas 40 ton, serta satu unit ekskavator mini.

Sampah Dipilah, Nilai Ekonomi Didorong

Sistem di PDU memungkinkan sampah dipilah berdasarkan jenisnya sebelum menentukan proses pengolahan berikutnya.

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pupuk organik. Sementara sampah anorganik, seperti plastik, dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali karena masih memiliki nilai ekonomi.

Adapun sampah yang tidak dapat dimanfaatkan akan menjadi residu untuk diproses lebih lanjut di area penimbunan akhir. Pola ini diharapkan mampu mengurangi beban TPA sekaligus membuka peluang ekonomi dari sampah yang sebelumnya hanya dipandang sebagai limbah.

Bupati Bulungan Syarwani menegaskan, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas pengolahan. Perubahan perilaku masyarakat menjadi bagian penting dari sistem tersebut.

Masyarakat didorong mulai melakukan pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari rumah, kemudian membuangnya melalui tempat yang telah disediakan agar proses pengangkutan dan pengolahan dapat berjalan lebih efektif.

Perisi Benuanta, Ajakan Bersama Jaga Kebersihan

Nama Perisi Benuanta juga memiliki pesan yang kuat. Bupati Syarwani menjelaskan, istilah tersebut berasal dari bahasa Bulungan dan mengandung makna ajakan untuk bersama-sama membersihkan dan menjaga daerah.

Karena itu, semangat “Perisi Benuanta” diharapkan tidak berhenti di kawasan PDU, tetapi menjadi gerakan bersama yang dimulai dari rumah tangga, lingkungan, TPS, hingga fasilitas pengolahan sampah.

Pemkab Bulungan juga melihat PDU sebagai sarana edukasi. Fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai tempat pembelajaran bagi masyarakat maupun pelajar untuk mengenal proses pemilahan dan pengolahan sampah secara langsung.

Dengan beroperasinya PDU Perisi Benuanta, Pemkab Bulungan menargetkan sistem persampahan semakin terintegrasi. Sampah tidak lagi semata-mata berakhir di TPA, tetapi sebanyak mungkin dipilah, diolah, dimanfaatkan kembali, dan memiliki nilai tambah sebelum hanya residunya yang masuk ke tempat pemrosesan akhir. (*)


Baca Juga